NDP Baru? atau Penjelasan Tentang NDP?
Nilai Dasar Perjuangan HMI ini sempat mengalami metamorfosa. Dari NDP menjadi NIK — akibat dari Asas Tunggal Pancasila –, kemudian sekarang kembali kepada nama NDP lagi. Kebetulan saat ini saya sedang meneliti tentang NDP, berkenaan dengan Karya Tulis terakhir (tesis) saya di Kampus. Keasyikan saya mendalami NIK dan NDP lama yang masih hasil olahan dari Cak Nur, tiba-tiba saya dibuat berkerut dahi ketika saya membaca NDP terbaru Hasil KONGGRES HMI XXV di MAKASAR…
Memang sudah sejak lama NDP atau NIK ini disinyalir oleh penggagas-nya sendiri (Cak Nur) bahwa jika perlu ‘dasar-dasar keislaman’ anak-anak HMI ini harus ada perubahan, atau mungkin ditutup buku, ganti dengan ‘dasar-dasar keislaman’ HMI yang lain.
Sinyalemen Cak Nur ini sempat tidak ada gayung bersambut, seakan-akan teman-teman HMI tidak lagi punya daya kreatifitas. Hilang ditelan zaman. Padahal HMI ini sebenarnya pabrik para penggagas baru, kritis, dan brilian.
Beberapa hari yang lalu saya meminta NDP terakhir pada anak-anak HMI di UIN Bandung untuk meng-copy hasil KONGGRES HMI XXV di MAKASAR. Setelah saya dapatkan, saya mencoba untuk membaca dan menelaah content NDP ini. Pikiran saya sempat bingung dan bertany-tanya. Mengapa ? ada beberapa hal yang harus jadi catatan bagi temen-temen HMI, terutama untuk PB HMI.
Pertama, dalam NDP tersebut kurang simpel, terlalu banyak penjelasan dan analogi-analogi, sehingga konsep-konsep dasarnya tidak menukik dan fokus. Mungkin lebih tepat jika NDP yang ada saat ini adalah disebut pensyarah (Tafsir NDP terdahulu).
Kedua, dalam NDP Baru tersebut terlalu gegabah menggunakan istilah dalam terminologi ilmu-ilmu keislaman, yang sebenarnya di dunia ilmu-ilmu keislaman sendiri istilah-istilah itu masih perlu kajian-kajian lebih mendalam. Sebab berefek pada wilayah implementasinya. Perlu menjadi catatan, bahwa setiap istilah dalam kajian ilmu-ilmu keislaman selalu ada latarbelakang dan ’sabab nuzul’-nya. Oleh karena itu penggunaan istilah pun disesuaikan dengan konteksnya. Menurut saya lebih baik menggunakan bahasa-bahasa yang netral yang tidak mengandung unsur multi-interpretatif. Jika tidak, kemungkinan besar NDP ini sendiri malah tidak mendalam, bahkan bisa jadi hanya kumpulan istilah-istilah yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, paradigmanya harus dipertajam dan fokus. Mengapa hal ini saya ungkap. Saya mencoba untuk memahami tentang SAIN ISLAM. Saya rasa temen-temen HMI mesti hati-hati menggunakan paradigma ini. Dari sisi judul saja tidak jelas, antara SAIN dengan ISLAM. Harus dipahami betul persamaan dan perbedaan antara paradigma SAIN dan paradigma agama, dalam hal ini ISLAM.
Kita coba koreksi. Paradigma SAIN, jelas bahwa ini adalah produk budaya manusia, netral dengan paradigma yang sudah umum logico-hypotetico-virificative. Sementara ISLAM adalah wahyu. Wilayah yang sangat berbeda antara keduanya. Terkecuali jika ISLAM yang dimaksud disini adalah knowledge, dengan kata lain bahwa Islam sebagai salah satu pengetahuan. bukan Ilmu Pengetahuan. sebab jika berbicara Ilmu Pengetahuan, maka semakin panjang wilayah kajiannya.
Namun, inipun ada batasan-batasannya. Sebagaimana dalam dasar-dasar kepercayaan, bahwa Kebenaran Mutlak adalah Allah, Yang Tak Terbatas, maka Kebenaran yang disampaikan melalui wahyu Allah pun Tak Terbatas. Dalam hal ini Islam. Jika yang dimaksud adalah Islam sebagai Pengetahuan yang berdasar pada manusia yang memiliki keterbatasan, maka resikonya adalah Islam dalam hal ini menjadi Pengetahuan yang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Dan ini menjadi rancu, bertentangan dengan dasar-dasar kepercayaan itu sendiri. Ataupun kalau dipaksakan, jika suatu saat SAIN ISLAM ini sudah out of date (sesuai dengan sifat SAIN sendiri), alias ketinggalan jaman. Maka akan muncul SAIN ISLAM BARU, SAIN ISLAM MUTAKHIR, SAIN ISLAM UP TO DATE, dsb. dsb. di situ nama ISLAM jadi terbawa-bawa, dan ikut bergeser dan melahirkan berbagai macam interpretasi (multi interpretatif).
Ontologi yang dilahirkan dari Filsafat Pengetahuan masih memiliki keterbatasan-keterbatasan yang bisa dijangkau oleh manusia, diluar jangkauan itu masuk dalam kerangka spekulatif, mungkin ya mungkin juga tidak. Sangat berbeda dengan keyakinan kita tentang ‘wahyu’ yang mutlak kebenarannya dan sebagai sumber pengetahuan, bukan pengetahuan itu sendiri.
Atau mungkin yang dimaksud dari SAIN ISLAM itu adalah SAIN yang lahir dari kerangka wahyu, sebagai landasan teologisnya dalam ephistemologi SAIN-nya ini. Maka jika ini yang dimaksud, lebih tepat disebut SAIN yang ISLAMI, atau SAIN berlandaskan Wahyu. apapun namanya itu, silahkan saja. Sebagai tambahan, tulisan yang bener itu SAIN atau SAINS, saya ga begitu mengerti bahasa Indonesia. Kayaknya sih SAINS (pakai “S”), sebab kalau ga pake “S” ga seger, kata temen akrab saya, ada-ada saja.Wallahu ‘a`lam.



salam kenal mas, NDP gati NIK, ato sebaliknya……. tanya kenapa…….?
http://www.layananiklan.com
SUSI IMUUT
24 May 2008